Jumat, 07 Oktober 2011

PERANAN EFFECTIVE MICROORGANISME – 4 (EM4) BAGI TANAMAN

Teknologi EM4 adalah teknologi budidaya pertanian untuk meningkatkan kesehatan dan kesuburan tanah dan tanaman dengan menggunakan mikroorganisme yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Effective Mikroorganisme-4 (EM4) mengandung bakteri dari genus Lactobacillus (bakteri penghasil asam - asam laktat), serta dalam jumlah sedikit bakteri fotosintetik, Streptomyces sp. dan ragi. Penelitian tentang penggunaan EM4 dalam bidang pertanian telah dilakukan sejak tahun 1980.
Menurut teori konvensional, bahan organik yang dicampurkan ke dalam tanah akan diuraikan oleh mikroorganisme, dan mineral yang dilepaskan dari hasil penguraian tersebut menjadi tersedia dan dapat diserap oleh perakaran tanaman. Bahan organik yang dicampurkan ke dalam tanah dapat difermentasikan oleh Lactobacillus sp. dan mikroorganisme penghasil laktat. Fermentasi tersebut menghasilkan gula, alkohol, asam amino, asam laktat dan senyawa lainnya yang dapat diserap langsung oleh perakaran tanaman untuk metabolisme hidupnya.
kandungan asarn amino yang dihasilkan dari inkubasi bahan organik dengan EM4 lebih tinggi dari kontrol. Penelitian lebih mendalam menunjukkan bahwa bahan organik yang difermentasi oleh Lactobacillus sp. mempunyai kandungan humus yang lebih tinggi daripada kontrol. Fermentasi bahan organik (rumput hijau) oleh EM4 memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan tanaman.

PERANAN ALSINTAN DI DALAM PERLUASAN LAHAN


Penggunaan Alat dan Mesin Pertanian di maksudkan agar produktifitas tenaga dapat menjadi lebih meningkat, pekerjaan lebih mudah. efisiensi kapasitas kerja dapat lebih tinggi, pendapatan petani dapat bertambah dan juga dapat menekan biaya produksi. peranannya untuk intensifikasi pertanian sudah jelas dan dapat di rasakan  karena semakin banyak pekerjannya berarti semakin  ketat pula pengaturan waktu kerja, sehingga untuk memperoleh ketetapan waktu yang sebaik-baiknya alat dan mesin pertanian sangat besar manfaatnya yaitu di dalam satuan waktu yang sama (1tahun) dan di dalam area yang sama juga besar (1 hektar) maka kapasitas bercocok tanamanya dapat menjadi bertambah.

perluasan areal pertanian juga dapat diartikan sebagai perluasan areal panen maupun perluasan areal tanam di dalam suatu penanaman tanaman pangan  dapat menjadi gagal atau tidak dapat panen yang disebabkan oleh beberapa macam antara lain sebagai berikut : karena air yang tidak tersedia, tidak dapat di salurkan karena terdapat perbedaan tinggi permukaan tanah, atau diakibatkan oleh hama penyakit tanaman. Maka dengan adanya pompa pengairan air yang lebih rendah dapat dinaikkan, sehingga tanaman permukaannya lebih tinggi dapat terbantu pengairannya.

1.      PERANAN ALSINTAN DALAM PENGOLAHAN  TANAH
Dengan adanya perkembangan-Pengembangan Alat-alat dan mesin pertanian  maka beban kerja di bidang pertanian  dapat di kurangi sedangkan produktifitas kerjanya dapat berlipat ganda dan juga hasil panen dapat menjadi meningkat.

2.      BAJAK DAN PEMBAJAKAN DENGAN TRAKTOR  RODA 2
Agar dapat diterima dengan memuaskan oleh para petani, Kinerja pada traktor kecil dan bajaknya harus Iebih dari pada tenaga ternak, dan bajak tradisional yang merupakan alat yang telah biasa digunakan petani. Kerena itu mesin harus mampu membajak dengan sempurna, stabil, dinamik seimbang sempurna, dan harus bisa dioperasikan dengan lepas tangan atau stang kendali tidak perlu dipegang. Bajak yang digandengkan di belakang traktor roda-2 dapat dipisahkan smenjadi dua type: Eropa dan Jepang (Asia). Perbedaan bajak Eropa dan bajak Asia : Pada zaman tenaga pertanian menggunakan tenaga hewan, bajak Eropa digunakan untuk lahan kering, sedangkan bajak Asia dikembangkan untuk lahan sawah.

3.      PENGOLAHAN TANAH DENGAN TRAKTOR RODA 4
Untuk pengolahan tanah yang lahannya luas (perkebunan) digunakan traktor rod­a 4 yang terdiri dari traktor jenis rantai (untuk pengolahan tanah basah dan kering) dan jenis ban karet (untuk pengolahan tanah kering, pamanenan pemupukan penyemprotan  hama

SOUND LEVEL METER


Sound Level Meter adalah suatu alat yang digunakan untuk pengukuran suatu intensitas suara. Dalam menggunakan alat Sound Level Meter ini untuk pengukuran taraf intensitas bunyi dapat menggunakan sumber suara dari sirine secara. Membunyikan sirine ini dapat dengan cara memberikan variasi tegangan yang diberikan untuk sirine tersebut, sehingga berdengung keras atau kecilnya suara yang dihasilkan oleh sirine bergantung pada tegangan yang diberikan untuk sirine tersebut. Untuk menggunakannya, sirine diletakkan pada suatu titik, dan Sound Level Meter diletakkan pada jarak yang ditentukan yaitu sekitar 5cm (bisa kurang ataupun lebih) dari arah yang berhadapan dengan Sound Level Meter tersebut. Pada saat sirine dibunyikan, Sound Level Meter akan mencatat Intensitas bunyi dari sirine tersebut.
Sound Level Meter ini digunakan untuk mengukur tingkat suara dalam desibel (dB). Sound Level Meter memiliki sebuah panel LCD, yang merupakan perangkat yang berdiri sendiri dan digunakan untuk pembacaan pada alat ini. Pengukuran dengan menggunakan sound level meter ini biasanya digunakan dalam studi polusi suara untuk kuantifikasi kebisingan, tapi terutama untuk industri, lingkungan dan kebisingan pesawat. Namun, pembacaan yang diberikan oleh sound level meter tidak berkorelasi dengan baik untuk kenyaringan suara manusia, karena ini meter kenyaringan diperlukan.
Sound Level Meter ini terdiri atas mikropon dan sebuah sirkuit elektronik termasuk attenuator, 3 jaringan perespon frekuensi, skala indikator dan amplifier. Tiga jaringan tersebut distandarisasi sesuai standar Sound Level Meter. Tujuannya adalah untuk memberikan pendekatan yang terbaik dalam pengukuran tingkat kebisingan total. Respon manusia terhadap suara bermacam-macam sesuai dengan frekuensi dan intensitasnya. Telinga kurang sensitif terhadap frekuensi lemah maupun tinggi pada intensitas yang rendah. Pada tingkat kebisingan yang tinggi, ada perbedaan respon manusia terhadap berbagai frekuensi. Tiga pembobotan tersebut berfungsi untuk mengkompensasi perbedaan respon manusia.
Dalam melakukan pengukuran menggunakan Sound Level Meter, gelombang bunyi yang terukur bisa jadi tidak sama dengan nilai Intensitas gelombang bunyi yang sebenarnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah:
1.         Adanya angin yang berhembus dari berbagai arah yang menyebabkan tidak akuratnya nilai yang terukur oleh Sound Level Meter.
2.         Apabila melakukan pengukuran di tempat yang banyak tumbuhan, suara yang dikeluarkan sirine terserap oleh tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitarnya. Sehingga pengukuran tidak maksimal.
3.         Adanya pengaruh kecepatan angin, yang menyebabkan nilai Intensitas gelombang bunyi yang terukur lebih kecil dari hasil yang sebenarnya.
Karena hal-hal yang berpengaruh pada penjalaran gelombang bunyi yaitu kecepatan angin dan benda-benda di sekitar sirine yang dapat menyerap gelombang bunyi.